ayo jual rumah

London di Ambang "Bubble"

4 Feb 2014


KOMPAS.com - Pasar perumahan London, Inggris, mulai menunjukkan gejala bubble seiring meningkatnya investor asing yang mengharapkan keuntungan dari pembelian properti. Selain itu, banyak pembeli lokal mengajukan pinjaman kredit senilai pendapatannya.

Ernst & Young melaporkan bahwa jumlah pinjaman rumah tangga Inggris saat ini jauh lebih banyak. Pinjaman tersebut digunakan untuk membeli properti, terutama kota London. Padahal harga rumah di ibukota ini rerata mencapai 404.000 poundsterling atau setara Rp 8 miliar. Tahun 2018, diprediksi bakal berada pada level 600.000 poundsterling (Rp 11,8 miliar).

Desember lalu, kenaikan tercatat sebesar 0,6 persen. Lebih tinggi ketimbang keuntungan nasional 0,3 persen. Tahun ini diprediksi bakal naik 8,4 persen, tahun 2015 melonjak 7,3 persen dan 5,5 persen pada tahun 2016.

Kendati demikian harga hunian tersebut masih jauh di bawah pencapaian puncak saat sebelum krisis 2008.

Ekonom senior Ernst & Young Item Club, Andrew Gordon, mengatakan, gejala ke arah gelembung properti merupakan kondisi yang sangat memprihatinkan. Khusus di London, kuatnya permintaan tidak diimbangi dengan pasokan. Sehingga mengerek harga hunian ke tingkat lebih tinggi.

Naiknya harga rumah di London, memang sudah diprediksi. Hal ini disebabkan banyaknya permintaan dari investor mancanegara dan inisiatif pemerintah untuk membantu pembeli. Asia telah menjadi sumber yang sangat kuat. Investor dari negara-negara seperti China dan Singapura mengambil keuntungan dari pembelian rumah di London, akibat depresiasi poundsterling sejak krisis keuangan.

Tak main-main, menurut Knight Frank, para investor asing tersebut membeli setengah dari semua rumah baru yang ditawarkan di lingkungan terbaik London selama dua tahun terakhir.


Sumber : properti.kompas.com


   







    
Copyright © 2014 ayojualrumah.com   All rights reserved