ayo jual rumah

Harga Rumah Tak Akan Turun!

13 Feb 2014


JAKARTA, KOMPAS.com - Meski harga properti residensial pada 2013 tumbuh melambat, namun tidak akan turun. Survei Bank Indonesia atas indeks harga properti rumah tapak yang dilansir Rabu (12/2/2014) mengindikasikan hal tersebut.

Menurut survei tersebut, kenaikan harga properti residensial yang terjadi pada 2012 dan 2013, diperkirakan akan terus berlanjut pada tahun ini. Bahkan, secara triwulanan, kuartal I 2014  meningkat lebih tinggi 2,56 persen dibanding kuartal IV 2013, dengan kenaikan harga tertinggi pada rumah tipe menengah yakni 3,45 persen.

Secara umum, pertumbuhan harga rumah sepanjang 2013 memang mengalami perlambatan, yakni 11,51 persen lebih rendah dibandingkan kenaikan harga pada 2012 sebesar 13,5 persen.

Dilihat berdasarkan tipe rumah, perlambatan kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah terutama tipe kecil. Sementara berdasarkan wilayah, kenaikan harga paling tinggi terjadi di Manado (23,23%) terutama pada rumah tipe menengah (35,38%), dan Surabaya (21,69%) terutama pada rumah tipe kecil (25,07%).

Untuk diketahui, berdasarkan 14 kota yang disurvei, indeks harga properti residensial berada pada level 170,90 atau meningkat 1,77 persen. Angka ini lebih rendah dari tahun sebelumnya. Faktor utama penyebab melambatnya pertumbuhan harga adalah kenaikan harga bahan bangunan yang memakan porsi 31,62 persen, kenaikan upah pekerja (23,19 persen) dan harga BBM.

Menurut pengamat properti Nasional, Panangian Simanungkalit, situasi tersebut lazim terjadi dan hanya bersifat temporer. Pasalnya, kebutuhan hunian akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah populasi.

"Perekonomian tumbuh, aktivitas pembangunan juga semarak. Namun, faktor pengubah konstelasi harga hanya berpengaruh sesaat untuk kemudian kembali normal karena konsumen tetap membutuhkan rumah," ujar Panangian kepada Kompas.com, Kamis (13/2/2014).

Adapun kenaikan harga secara triwulanan pada 2013, meski terjadi pada semua tipe rumah, namun paling tinggi terjadi pada rumah tipe menengah, yakni 2,14 persen. Sementara berdasarkan wilayah, Surabaya mengalami kenaikan paling tinggi yakni 5,65 persen, terutama pada tipe menengah sebesar 9,29 persen setelah mengalami perlambatan pada triwulan sebelumnya. Peningkatan harga yang cukup tinggi juga terjadi di wilayah Banjarmasin, terutama pada rumah tipe kecil yakni 7,50 persen.

Penjualan menurun

Selain melambatnya pertumbuhan harga, tahun 2013 juga mencatat penurunan penjualan properti hunian. Hasil survei menunjukkan bahwa penjualan properti residensial pada kuartal IV melambat dibandingkan triwulan sebelumnya dari 39,80 persen menjadi 12,05 persen.

Adanya kebijakan penyempurnaan ketentuan loan to value 2013 turut memberikan dampak terhadap penurunan permintaan hunian. Perlambatan kenaikan penjualan terutama terjadi pada rumah tipe kecil.

Panangian sependapat dengan BI, bahwa ketentuan LTV dan kenaikan suku bunga menjadi penyebab anjloknya penjualan. Oleh karena itu, ada banyak pengembang yang mulai mengoreksi harga jual dengan menempuh berbagai cara, di antaranya memperkecil ukuran rumah.

"Selain itu, banyak juga pengembang yang memberikan bunga 0 persen, uang muka yang dapat dicicil selama 36 kali hingga masa tenor pinjaman yang diperpanjang. Saya sarankan kepada konsumen untuk tidak mundur membeli rumah, karena sejatinya harga rumah tidak akan pernah diikuti dengan kenaikan pendapatan," ujarnya.
Sumber : properti.kompas.com


   







    
Copyright © 2014 ayojualrumah.com   All rights reserved