ayo jual rumah

"Sekali Lagi, Sampai Kapan Pun Harga Rumah Tak Akan Turun"

14 Feb 2014


JAKARTA, KOMPAS.com — Menunda pembelian hanya akan memperkecil dan membatasi peluang memiliki rumah idaman. Dengan alasan harga rumah mahal dan tak terjangkau, terlebih dalam situasi suku bunga KPR tinggi dan proses politik 2014, calon konsumen berpikir ekstra keras dan memutuskan untuk wait and see.

Padahal, di Indonesia harga rumah tidak akan pernah turun dan tidak akan pernah diikuti dengan kenaikan pendapatan. Bagaimanapun situasi dan kondisi perekonomian nasional, harga rumah akan terus naik, kendati pertumbuhan kenaikannya melambat seperti saat ini.

Pengamat properti, Panangian Simanungkalit, mengungkapkan pendapatnya terkait melambatnya pertumbuhan harga dan penurunan penjualan properti hunian pada 2013 hasil survei indeks harga properti residensial Bank Indonesia, kepada Kompas.com, Kamis (13/2/2014).

Menurut Panangian, meski saat ini situasi sedang tidak stabil, konsumen tetap diuntungkan. "Inilah saat yang tepat membeli properti. Karena tahun 2014 ini merupakan momentum untuk para pembeli (buyer's market). Konsumen dalam posisi tawar tinggi, sementara pengembang harus melakukan beberapa penyesuaian (adjustment) supaya produknya laku terjual," urainya.

Lebih jauh Panangian menambahkan, pengembang sekarang menempuh segala macam cara atau strategi hanya untuk menarik minat konsumen membeli produknya. Strategi tersebut adalah dengan memberikan kemudahan pembiayaan, seperti bunga nol persen, uang muka yang dapat dicicil untuk masa tenor tertentu, dan lain sebagainya.

"Kalau tidak membeli sekarang, harga akan terus bergerak naik. Tidak akan menunggu gaji atau pendapatan konsumen, naik. Terlebih bila pemilihan umum berlangsung lancar dan presiden terpilih sesuai harapan pasar dan masyarakat, peningkatan harga properti justru bakal lebih melejit lagi. Karena permintaan bakal meningkat sebagai akibat ekonomi tumbuh, inflasi terkendali, daya beli juga mengikuti," ujar Panangian.

Perlambatan pertumbuhan harga, imbuh Panangian, akan berlangsung sampai Oktober atau November 2014. Desember akan berangsur normal. Saat itu, tingkat inflasi dapat dikendalikan, investasi asing deras mengalir, dan aktivitas bisnis kembali lancar. "Awal 2015 siklus properti mulai naik kembali," imbuhnya.

Untuk diketahui, sebelumnya Bank Indonesia mengeluarkan survei indeks harga properti residensial pada Rabu (12/2/2014). Hasil survei menunjukkan bahwa penjualan properti residensial pada kuartal IV melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, dari 39,80 persen menjadi 12,05 persen.

Adanya kebijakan penyempurnaan ketentuan loan to value 2013 turut memberikan dampak terhadap penurunan permintaan hunian. Perlambatan kenaikan penjualan terutama terjadi pada rumah tipe kecil.

Meski demikian, kenaikan harga properti residensial yang terjadi pada 2012 dan 2013, diperkirakan akan terus berlanjut pada tahun ini. Bahkan, secara triwulanan, kuartal I 2014  meningkat lebih tinggi 2,56 persen dibanding kuartal IV 2013, dengan kenaikan harga tertinggi pada rumah tipe menengah yakni 3,45 persen.


Sumber : properti.kompas.com


   







    
Copyright © 2014 ayojualrumah.com   All rights reserved