ayo jual rumah

"Ludes" Terjual Sebelum Dibangun, Sehatkah Pasar Properti Kita?

16 Feb 2014


JAKARTA, KOMPAS.com - Seremoni pemancangan tiang pembangunan Gayanti City tahap pertama di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (15/2/2014) kembali membuktikan bahwa konsumen properti di Indonesia begitu tanggap, bahkan terkesan terburu-buru, dalam menjawab penawaran produk properti terbaru.

Baru diluncurkan, produk bisa "ludes" dalam waktu singkat. Tower residensial pertama Gayanti City sudah terjual 67 persen dari total 203 unit hunian. Marketing Manager PT Buana Pacifik Internasional Andri Susanto bahkan mengungkapkan perusahannya menargetkan penjualan tower pertama habis 100 persen pada tahun ini. Padahal, proyek tersebut baru diluncurkan Desember tahun lalu. Sementara, pasar properti di 2014 disebut-sebut akan mengalami perlambatan, ada kemungkinan perilaku konsumen pun berubah. "Kami meluncurkan proyek ini Desember tahun lalu. Saat itu langsung terjual 50 persen dari keseluruhan unit. Sekarang waktunya bekerja keras melakukan "penjualan keras"," ujar Andri.

Technical Advisor, Residential Marketing Project Jones Lang LaSalle Indonesia, Luke Rowe, mengatakan, kecenderungan konsumen properti Indonesia yang begitu tanggap ini bisa dilihat dari berbagai sisi. Menurut data yang dipublikasikan Jones Lang LaSalle, tahun lalu sebanyak 74 persen dari semua proyek baru sudah melakukan penjualan bahkan sebelum adanya proses pembangunan sama sekali. Ketika pembangunan selesai, penjualan sudah mencapai 90 persen dari unit yang ditawarkan. Ini merupakan indikator bahwa pasar properti tumbuh sehat. Luke menambahkan, di negara lain penjualan berbekal cetak biru dan gambar rendering saja sudah dianggap baik jika berhasil mencapai 30 persen, 50 persen saat tutup atap, serta 70 persen saat penyelesaian pembangunan dan serah terima kunci. Hal yang luar biasa selama ini sudah terjadi di Indonesia. Namun, perubahan sudah diperhitungkan akan terjadi di tahun ini. Luke Rowe, Andri Susanto, dan President Director PT Buana Pacifik International Dedi Djajasastra tetap optimis meski sektor properti di Indonesia diramalkan akan melambat. Kendati pada akhir tahun 2013 lalu, jumlah konsumen properti di Indonesia berkurang cukup signifikan karena berbagai faktor, mulai dari Pemilihan Umum yang akan segera dilakukan, antisipasi kondisi ekonomi dunia, pelemahan nilai Rupiah terhadap Dollar AS, peningkatan bunga dan inflasi, penahanan unit properti dari pengembang, hingga peraturan dari Bank Indonesia untuk mencegah aksi spekulasi di bidang real estat, namun pengembang tetap optimistis. "Memang akan melambat, tapi setelah Pemilu akan membaik.  Pemilu hanya akan menjadi gangguan sementara, setelah itu akan kembali stabil," ujar Luke.

Andri juga tidak menampik bahwa perubahan perilaku konsumen akan terjadi. Namun, proyek perusahaannya tidak terpengaruh. "Pembeli tetap membeli, tapi mereka akan lebih berhati-hati di mana mereka membeli. Kalau dulu mereka membeli empat, kini mereka hanya beli satu atau dua. Kami ingin menjadi yang satu atau dua tersebut. Caranya, kami mencoba membangun on time, sesuai dengan janji-janji yang kami berikan. Kami mau merangkul para konsumen dengan menunjukkan kami serius. Saya yakin Gayanti akan masuk dalam short list yang mereka investasikan," ujarnya.

Pembelian unit sebelum properti tersebut dibangun mungkin menandakan pasar properti yang sehat. Namun, ketergesa-gesaan konsumen properti mampu merugikan konsumen sendiri. Konsumen rentan terhadap tindak penipuan, maupun kerugian lain. Hal ini disadari President Director PT Buana Pacifik International Dedi Djajasastra yang berusaha meyakinkan konsumen Gayanti City, bisa memonitor pembangunannya selama masa angsuran. Kantor PT Buana Pacifik International berada di lokasi yang sama dengan Gayanti City, konsumen bisa mengaksesnya langsung.
Sumber : properti.kompas.com


   







    
Copyright © 2014 ayojualrumah.com   All rights reserved