ayo jual rumah

2025, Target Indonesia Menekan Konsumsi Energi Tak Terbarukan

14 Mar 2014


JAKARTA, KOMPAS.com - India bukan satu-satunya negara di Asia yang tengah bergelut dengan masalah ketersediaan energi dan berusaha keluar dari masalah tersebut. Di tengah problematika ekonomi, sosial dan politik, Indonesia pun ternyata sedang berjuang menemukan sumber energi terbarukan untuk memasok 22 persen rumah tangga yang belum menikmati listrik.

Hal itu disampaikan Direktur Konservasi Energi, Direktorat Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Maritje Hutapea pada pengumuman pemenang Schneider "Go Green in the City 2014" di Jakarta, Kamis (13/3/2014). Kepada Kompas.com, Maritje mengakui, bahwa kementeriannya tengah berjuang meningkatkan kesadaran masyarakat dan berbagai industri atas pentingnya konservasi energi.

Namun, menurut Maritje, hal itu bukan perkara mudah. Meskipun mulai menjalin hubungan koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, koordinasi lintas kementerian sangat tidak mudah. Dia berharap, pada 2025 mendatang konsumsi energi tidak terbarukan di Indonesia bisa ditekan jumlahnya.

"Kan memang program itu dari sektor ke sektor berbeda-beda. Kalau secara nasional kita punya target pada 2025 itu intensitas energi kita sudah harus semakin rendah," ujar Maritje.

"Kalau sekarang sekitar 400-an. Artinya, untuk menghasilkan GDP 1 juta dollar AS itu dibutuhkan 400 TOE (Tonne of Oil Equivalent). Kalau Jepang kan cukup sekitar 75 atau 100. Masih ada pemborosan sekitar 300 TOE. Kita targetkan harus menurun satu persen tiap tahun," tambahnya. 

Maritje juga mengatakan, bahwa sejauh ini pihaknya tidak hanya mengembangkan satu jenis energi terbarukan. Indonesia bisa memanfaatkan berbagai alternatif pembangkit, seperti panas bumi, air, dan angin.

"Kita punya seluruh sumber energi, ada energi fosil, ada energi non fosil atau energi terbarukan. Dalam kebijakan energi nasional sudah kita tentukan tahun 2025 itu minyak bumi maksimal 20 persen, batu bara 33 persen, gas bumi minimal 30 persen, energi terbarukan 17 persen," papar Maritje.

"Bahkan, sebentar lagi akan keluarkan kebijakan energi terbaru yang baru disetujui DPR, di situ energi terbaru minimal 23 persen. Ini yang semua akan kita kembangkan. Kalau dilihat dari jenis-jenisnya, panas bumi, tenaga air, bio energi jadi pioritas kita untuk pengembangannya," tambahnya.

Menurut Maritje, meski biaya energi di Indonesia masih tergolong murah, namun ketersediaannya semakin menipis. Terus mengandalkan energi tidak terbarukan bisa fatal akibatnya. Karena itu, masyarakat perlu ambil bagian, bahkan dalam skala rumah tangga. Menggunakan lampu hemat energi saja misalnya, lanjut dia, itu sudah sangat membantu.

"Sekarang kita ajak semua untuk menggunakan energi secara efisien," tandasnya.
Sumber : properti.kompas.com


   







    
Copyright © 2014 ayojualrumah.com   All rights reserved