ayo jual rumah

Kebijakan Antispekulasi Gagal Redam Lonjakan Harga Properti Malaysia

24 Mar 2014


KOMPAS.com - Harga rumah di Malaysia melonjak dramatis sebesar 14,4 persen. Padahal pemerintah setempat telah menerapkan kebijakan anti-spekulasi guna meredam pertumbuhan harga.

Menurut Valuation and Property Service Department, Kuala Lumpur memperlihatkan pertumbuhan paling tinggi dengan harga termahal yakni rerata 189.342 dollar AS atau setara dengan Rp 2,1 miliar. 

Menyusul Sabah dan Selangor di tempat kedua dan ketiga, masing-masing seharga rerata 126.030 dollar AS (Rp 1,4 miliar), dan 123.784 dollar AS (Rp 1,4 miliar).

Lonjakan harga rumah juga terjadi di Johor sebesar 20,4%, Pulau Pinang (14,3%), dan Negeri Sembilan (6,3%). Selangor dan Perak mengalami pertumbuhan harga tahunan terendah, masing-masing sebesar 4,3% dan 3,7%.

Menariknya, meski terjadi peningkatan, harga rumah di Malaysia masih di bawah pencapaian pra-krisis Asia 1997. Kurun awal 1991, harga rumah meroket 25,5%, dan 1995 naik 18,4%. Setelah krisis, harga kemudian merosot 39%, terutama terjadi di Kuala Lumpur. 

Namun, ketika pasar properti mengalami revitalisasi, di antaranya didukung pembangunan proyek Mass Rapid Transit (MRT), harga kembali meningkat dan terus menguat hingga saat ini.

Kebijakan anti-spekulasi terbaru pemerintah setempat yang diharapkan dapat mengurangi volume transaksi ternyata tak kuasa menahan gejolak harga. Bahkan, harga properti di titik-titik "panas" diperkirakan akan terus meningkat.

Menurut Knight Frank, hal tersebut disebabkan jumlah pasokan baru berkurang menjadi hanya 3.736 unit hingga jelang 2013 berakhir. Padahal peiode yang sama tahun sebelumnya pasokan baru mencapai 14.662 unit. Ini artinya jumlah pasokan anjlok 74,5%.



Sumber : properti.kompas.com


   







    
Copyright © 2014 ayojualrumah.com   All rights reserved