ayo jual rumah

Pasar Properti Padang Terhambat Status Tanah Ulayat

10 Apr 2014



PADANG, KOMPAS.com - Tidak seperti kota-kota besar lainnya di Pulau Sumatera yang tengah mengalami gegap gempita sektor properti, Padang justru adem ayem. Perkembangan sektor properti di Ibukota Sumatera Barat ini cenderung berjalan biasa saja.

Hal itu disebabkan terbatasnya ketersediaan lahan yang siap untuk dikembangkan menjadi properti komersial. Kalaupun ada, statusnya adalah tanah ulayat yang dimiliki masyarakat adat setempat sehingga menyulitkan pengembang dan investor untuk mengakuisisinya.

Sekretaris DPD REI Sumatera Barat, Edi Naswani mengutarakan perkembangan sektor properti Padang yang tersendat tanah ulayat kepada Kompas.com, Kamis (10/4/2014).

"Kami bukannya tidak mampu membeli lahan yang memang harganya sudah tinggi. Namun, sebagian besar lahan yang tersedia di Padang masih berstatus lahan ulayat. Ini yang menyulitkan kami melakukan eskpansi pengembangan properti," ujar Edi.

Walhasil, lanjut Edi, pergerakan roda bisnis properti pun berjalan lambat. Pengembang dan investor pun kemudian mengubah orientasi wilayah garapannya ke daerag pinggiran seperti Kota dan Kabupaten Solok, Pasaman Barat, Dharmasraya, dan daerah sekitarnya.

"Ketersediaan lahan di kawasan-kawasan tersebut masih surplus dengan harga relatif lebih kompetitif. Selain itu, masih banyak lahan yang tidak berstatus lahan ulayat, sehingga kami tidak mengalami kesulitan membangun properti di sana," tambah Edi.

Harga lahan di kawasan-kawasan tersebut sekitar Rp 300.000 per meter persegi. Sementara di Padang atau tepatnya di Jl Sudirman, sudah berada pada level Rp 5 juta sampai Rp 6 juta per meter persegi. Sehingga harga properti yang dipatok pun ikut meroket, yakni sekitar Rp 800 juta-Rp 1,5 miliar per unit.

Sementara di Kota dan Kabupaten Solok, harga rumah yang mampu diserap pasar adalah Rp 400 jutaan. "Ini merupakan harga yang paling masuk akal dan pasar menyambut antusias. Kami pun bergairah membangun perumahan untuk segmen pasar ini," tandas Edi.

Dengan siasat perubahan orientasi wilayah pengembangan tersebut, Edi berharap kekurangan pasokan rumah sebanyak 6.000 unit per tahun bisa dikurangi. Tahun lalu, dari target 10.000 unit rumah, hanya terealisasi sejumlah 4.000 unit.

Properti komersial

Pasca Basko Group dengan Basko Minang Plaza dan Premier Basko Hotel, tidak ada lagi pengembangan properti multifungsi serupa. Hingga kemudian hadir Lippo Group pada 10 Mei 2013 dengan Lippo Plaza.

Lippo Plaza merupakan properti terintegrasi yang terdiri atas rumah sakit berskala internasional, hotel bintang lima, fasilitas pendidikan, dan pusat perdagangan.

Proyek yang diprediksi senilai total Rp 1,3 triliun tersebut memiliki total luas bangunan 94.000 meter persegi, meliputi rumah sakit internasional berkapasitas 300 tempat tidur. Selain itu, terdapat Hotel Aryaduta sebanyak 200 kamar, Sekolah Padang Harapan yang dapat menampung 1.680 siswa, serta pusat perdagangan seluas 55.000 meter persegi.

Beberapa penyewa utama sudah siap masuk untuk mengisi pusat perdagangan yakni Hypermart dan Matahari Department Store, bioskop, pusat kebugaran dan perbankan.

Pembangunan Lippo Plaza dipastikan tahun ini. "Tak ada masalah dengan perizinan. Semua izin sudah lengkap. Jadi, tak ada alasan untuk menunda pembangunan Lippo Plaza," ujar Vice President Head of Corporate Communication Lippo Karawaci, Danang Kemayan Jati, Selasa (11/3/2014).


Sumber : properti.kompas.com


   







    
Copyright © 2014 ayojualrumah.com   All rights reserved